Rabu, 9 maret 2016
Pagi ini aku bangun dengan damai dan penuh suka cita di hari yg sedang di hebohkan oleh berita mengenai "gerhana matahari". Karena libur dan tidak ada acara, aku memutuskan untuk ke kantor sekedar iseng berkumpul dengan teman baru yg akan di seleksi oleh rokuagency. Tak ada yang berbeda siang itu. Semua berlalu seperti hari lainnya. Akupun memutuskan untuk pulang pukul 15.00 dan tepat 16.15 sore zulmi dan edo datang ngajakin karaoke .
Malam hari sepulang dari karaoke, aku melihat mantan pacarku pergi bersama wanita lain, dan aku entah kenapa aku merasa perasaanku tidak enak. Tiba-tiba saja dalam pikiranku terlintas untuk mencari obat penenang di internet. Saat itu aku masih ingat dengan memoriku saat dirawat 2 kali karena meminum obat dari klinik karna salah resep obat. Jadi aku menahan keinginan itu dan mencoba mengalihkan perhatianku dengan mencari kegiatan. Bermain instagram menjadi pilihanku.
Tapi tak lama, pikiran itu muncul lagi. Kali ini aku benar-benar ingin meminum obat penenang. Semakin aku ingat bahaya yang akan terjadi, semakin tinggi hasratku untuk meminum obat banyak-banyak. Aku tak mengerti bagaimana dan kenapa hal itu bisa terjadi. Tepat jam 11 malam, aku sudah benar-benar tidak tahan dan akhirnya mencoba mencari obatobat ku dulu di lemari. Tapi aku tak menemukan 1 pun obat tersisa hingga aku hanya meringkuk di atas tempat tidur sambil membiarkan air mataku berlinang sendiri.
Kamis.10 maret 2016
Hari ini mama membuat janji dengan bgmus untuk pijat urat.Sampai disana, aku disambut oleh seorang pria yg kemungkinan adalah cucu dri bgmus. Selagi menunggu dia terus menanyai sepuar kegiatanku jdi bisa di blg kami sudah saling kenal. Hingga akhirnya giliranku tiba. Aku diminta berbaring di salah satu bed disana.
Hingga bgmus mulai memijat, luar biasanya aku terus menjerit karna semua uratku di tekannya. Sakit? Sangat!
Bgmus blg keadaanku tidak stabil, dia memberikanku resep herbal lalu kami pulang. Sampai rumah, hari sudah sore. Aku mencoba meminum obat herbal yg di berikan bgmus tapi selagi aku meminum obat herbal yg di berikan bgmus, Semakin besar keinginanku untuk minum obat penenang. Aku benar-benar tak bisa menahannya. Akhirnya, jam 8 malam, aku keluar rumah dengan alasan pergi isi pulsa. Padahal aku pergi ke apotek membeli 2 Amitriptyline dan 1 CTM. Setelah itu aku mampir ke minimarket dan membeli minum. Disana juga aku menelan 20 butir Amitriptyline dan 12 butir CTM. Aku puas. Perasaanku lebih baik. Lalu aku kembali ke rumah.
Dirumah aku masih bercanda-canda dengan mama dan bapak. Kami browsing internet bersama membuka sebuah situs yang lucu. Tertawa seakan tidak terjadi apa-apa. Lalu jam 10 malam aku berniat untuk tidur. Tapi efek obat mulai terasa. Jantungku berdebar kencang, kepalaku sakit, dan kakiku dingin sekali lalu uratku kejang. Aku tidak bisa tidur. Aku coba nikmati rasa sakit itu dengan mendengarkan musik. Hari pun berganti.
Jum'at 11 maret 2016
Sekitar jam 1 malam, perutku mual sekali dan akhirnya aku muntah. Tapi kulihat tidak ada obat keluar dari muntahan itu. Artinya obat itu telah dicerna di ususku dan kandungannya mulai masuk darah. Jam 2 malam, aku mencoba menghitung nadiku sendiri. Tak kusangka, nadiku begitu cepat dan terasa sungguh mendebarkan, hasil hitungannya mencapai 178x/menit. Gila pikirku. Lalu aku menghubungi mama. Mama langsung menghampiri aku dan panik. Akhirnya mama dan bapak hanya memberiku air soda dan susu kental manis. Dua setengah jam aku menggigil hingga tanpa sadar akupun tertidur
Pagi, siang, dan sore hari kuhabiskan dirumah. Nadiku masih berdenyut cepat sekali, jantungku berdebar-debar seperti mau copot, kakiku masih dingin, dan kepalaku juga masih sakit sekali. Aku hanya bisa berbaring sambil nonton TV. Tapi menjelang malam, aku benar-benar tidak tahan lagi. Akhirnya bapak membawaku kerumah sakit untuk konsultasi.
Sabtu 12 maret 2016
Pagi dini hari aku bangun dalam keadaan paling kacau. Nafasku sesak tidak karuan, akhirnya aku beranikan diri mengirim pesan ke robi. Pesan yg kukira akan jadi pesan terakhirku. Setelah mengirim pesan aku segera siap" karna tak lama setelah itu aku dapati kabar bahwa temanku masuk RSB di daerah ayahanda. Aku langsung menuju ke RSB pukul 13.00 siang, sebelum berangkat, aku meminum 8butir amitriptyline lalu menuju ke RSB
Cuaca medan saat itu panas terik. Kepalaku kembali pusing. Hidungku kembali mimisan. Awalnya aku berpikir untuk menepi tapi aku keburu pingsan lebih dulu sebelum berhasil memarkirkan kereta
Saat sadar aku tengah berada dirumah penduduk, dalam keadaan baju penuh Darah, di tanyai oleh pemilik rumah hingga robi, mama, bapak dtg ke tempat aku pingsan. Akupun langsung di larikan ke RSRP. Aku dibawa ke UGD RSRP. Disana aku berbaring setelah diperiksa tanda vitalnya. Lama sekali aku menunggu. Tidak ada dokter yang menangani karena disana ramai pasien. Akhirnya 2 orang perawat datang menemuiku. Kami berbicara di ruang konsultasi, masih seputaran UGD. Aku kembali menceritakan apa yang terjadi dengan detail. Ditanya berbagai macam pertanyaan juga. Lalu mereka menghubungi dokter saraf. Hasilnya, dokter meminta aku dirawat dan melakukan Scan serta Eeg. Selain karena di RSRP biasa ruangannya penuh, diRS ini susah untuk mendapatkan kamar jika masalahnya adalah saraf. Jadi aku diminta dirawat di ruangan kelas 2. Sebelum pindah kesana, ada seorang Suster yang memeriksaku. Saat itu nadiku sudah turun menjadi 104x/menit, dan aku sudah minum ponstan untuk meredakan sakit kepala. Dan diinfus lagi untuk diberi tindakan lainnya.
Minggu 13 maret 2016
Pagi dini hari aku berbaring di sebuah tempat tidur pada kamar kelas 2, ruang rawat pasien saraf. Disebelah tempat tidurku ada tempat tidur lain yang diisi seorang ibu paruh baya. Ia hanya diam saja melihat kedatanganku. Memang penyakinya adalah pembengkakan otak tetapi ia memang cenderung diam, larut dalam penyakitnya. Dengan pasrah aku berusaha tidur karena aku benar-benar mengantuk. Mama dan bapak pun tetap berada dsini menunggu aku karena memang pasien yang dirawat wajib untuk ditunggui. HP-ku juga disita agar aku benar-benar tidur. Tidak terganggu dengan HP.
Paginya aku bangun, mama datang membawakan aku coklat sebagai bingkisan karena hari ini adalah hari ulang tahun adikku. Selagi mama memberikan coklat itu padaku, seorang pasien dari kamar lain ternyata mengintai. Lalu ia masuk, mengajak berkenalan, dan tanpa basa-basi, ia meminta coklat yang ada di genggamanku. Kuberikan coklat itu sebagian kepadanya karena ia tampak memaksa. Lalu perawat disana melihat kejadian itu dan mengusirnya keluar. Ternyata pasien itu menderita gastritis akut dan sedang dalam fase manik. Pantaslah kelakuannya seperti itu. Tak lama, dokterpun datang dan tampak kecewa dengan apa yang kulakukan. Kami membicarakan banyak hal. Ia menanyakan apa tujuanku melakukan tindakan bodoh ini. Kujawab, aku sendiri ingin merasakan sensasi disaat menikmati dan merasa puas saat minum obat
menantang kematian, dan ingin mendapat perhatian dari orang sekitar. Aku juga bingung jika ditanya kenapa aku bisa melakukan ini. Aku hanya ingin sensasi itu, dan hasratku itu tidak bisa kukontrol. Pokoknya aku ingin merasakan puas dengan meminum obat penenang sebanyak mungkin. Hal ini mirip dengan gangguan pengendalian impuls katanya. Tak lama keluargaku datang. Lengkap. Kami semua duduk bersama membicarakan rencana penangananku ke depan. Selain itu juga membicarakan harapan, kendala, dan masalah yang ada dalam keluargaku. Semua dibicarakan dengan terbuka. Aku merasa senang melihat semua ternyata peduli denganku. Aku harus bisa berjuang lebih keras untuk melawan keinginanku yang aneh itu. Setelah membicarakan itu semua, aku pun kembali tidur menunggu sore tiba...